Minggu, 11 Oktober 2009

Kerajaan Tulang Bawang

Kerajaan Tulang Bawang adalah salah suatu kerajaan di Lampung. Kerajaan ini berlokasi di sekitar Kabupaten Tulang Bawang, Lampung sekarang. Tidak banyak catatan sejarah yang memberikan keterangan mengenai kerajaan ini.Dari catatan musafir Tiongkok yang pernah mengunjungi Indonesia pada abad VII, yaitu I Tsing yang merupakan seorang peziarah Buddha, pernah singgah di To-Lang P'o-Hwang (Tulang Bawang), suatu kerajaan di pedalaman Chrqse (Sumatera). Namun demikian Tulang Bawang lebih merupakan satu Kesatuan Adat Tulang Bawang yang pernah mengalami kejayaan pada Abad ke VII M.[1]

Sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan pusat kerajaan Tulang Bawang, namun ahli sejarah Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan ini terletak di hulu Way Tulang Bawang (antara Menggala dan Pagardewa) kurang lebih dalam radius 20 km dari pusat kota Menggala.[1]

Seiring dengan makin berkembangnya kerajaan Che-Li-P'o Chie (Sriwijaya), nama Kerajaan Tulang Bawang semakin memudar. Tidak ada catatan sejarah mengenai kerajaan ini yang ada adalah cerita turun temurun yang diketahui oleh penyimbang adat, namun karena Tulang Bawang menganut adat Pepadun, yang memungkinkan setiap khalayak untuk berkuasa dalam komunitas ini, maka Pemimpin Adat yang berkuasa selalu berganti ganti Trah. Hingga saat ini belum diketemukan benda benda arkeologis yang mengisahkan tentang alur dari kerajaan ini.

Pagardewa Resmi Jadi Kecamatan

PAGARDEWA (Lampost): Bupati Tulangbawang Abdurrachman Sarbini meresmikan Pagardewa sebagai kecamatan dan sekaligus melantik Syofian A. Ganie sebagai camat setempat, Rabu (28-7).

Menurut Abdurrachman Sarbini, sudah menjadi target Pemkab Tulangbawang sejak dulu untuk menjadikan Pagardewa sebagai kecamatan, dan mendapat dukungan masyarakat.

"Tidak ada rekayasa Pemkab Tulangbawang dalam pembentukan ini, karena keinginan tersebut betul-betul impian dan kerja keras masyarakat Pagardewa," ujar dia.

Menurut Mance, sapaan akrabnya, diresmikannya Kecamatan Pagardewa berarti hingga sekarang Tulangbawang memiliki 17 kecamatan, 4 kelurahan, 234 kampung definitif, dan 1 kampung persiapan.

"Mudah-mudahan dengan terbentuknya Pagardewa menjadi kecamatan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemerintah di seluruh wilayah, serta memperpendek rentang kendali pemerintah dan memperlancar pelayanan terhadap masyarakat sekaligus dapat meningkatkan penyebaran dan pemerataan hasil pembangunan di Tulangbawang," katanya.

Bupati juga mengharapkan kepada seluruh elemen masyarakat dan aparatur daerah agar bersama-sama menyusun rencana yang baik sekaligus melaksanakan pembangunan secara lebih mandiri dengan berbekal partisipasi aktif seluruh elemen dengan memanfaatkan segenap potensi yang ada.

Sementara, tokoh masyarakat Pagardewa, H. Masyono Nawawi, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang berjuang dan membantu terbentuknya Pagardewa sebagai kecamatan.

Menurut Masyono Nawawi, adapun kilas balik perjuangan dalam pembentukan Kecamatan Pagardewa bermula dari tokoh adat Pagardewa, H. Assaih Akip, pada 22 Januari 2003 yang menyampaikan ide tentang pembentukan Kecamatan Pagardewa.

"Dari sana kemudian ditindaklanjuti dengan rapat tokoh masyarakat dan tokoh adat pada 22 Januari 2003. Dilanjutkan rapat di Rumah Makan Begadang Bandar Lampung pada 7 Februari 2003, kemudian rapat lagi dengan Bupati Tulangbawang 23 Februari 2003. Hingga Sidang Paripurna DPRD Tulangbawang pada 8 Juli 2004 yang mengesahkannya Perda No. 4/2004 tentang Pembentukan Kecamatan Pagardewa dan Kecamatan Rawajitu Timur," katanya.

Menurut Masyono, Pagardewa memiliki latar belakang histori, yaitu pada abad XVII hingga abad XIX Pagardewa merupakan daerah ad-interim Tulangbawang kala itu.

"Oleh karena itu, kepada Bupati Tulangbawang kami titipkan Pagardewa agar mendapat prioritas pembangunan. Apalagi, di Pagardewa terdapat banyak makam dan peninggalan sejarah yang dapat dijadikan cagar budaya yang bisa dijadikan salah satu objek wisata di Tulangbawang," kata dia.

Peresmian Kecamatan Pagardewa ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pembukaan selubung papan nama kecamatan oleh Bupati dengan disaksikan unsur muspida Tulangbawang.

Peresmian Kecamatan Pagardewa, Kabupaten Tulangbawang, berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tulangbawang No.4 Tahun 2004, tanggal 8 Juli 2004, tentang Pembentukan Kecamatan Pagardewa dan Kecamatan Rawajitu Timur.

Sementara, pelantikan Camat Pagardewa berdasarkan Keputusan Bupati No.821/015/KEP/BKD/2004, tanggal 27 Juli 2004, tentang pelantikan Drs. Syofian A. Ganie dan Solihin, masing-masing sebagai camat dan sekretaris Kecamatan Pagardewa.

Berdasarkan Perda Tulangbawang tersebut luas wilayah Kecamatan Pagardewa 13.328 hektare dengan jumlah penduduk 12.653 jiwa dan membawahi lima kampung yaitu; Kampung Pagardewa, Kampung Sukamulya, Kampung Cahyowrandu, Kampung Bujungsari Marga, dan Kampung Bujung Dewa. Sebelumnya, daerah ini bagian wilayah Kecamatan Tulangbawang Tenggah.

Kecamatan Pagardewa sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Lambukibang dan Kecamatan Gunungterang, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tulangbawang Tenggah, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Negeribesar, Kabupaten Way Kanan, dan sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Menggala.n OZI/CHA/UNA/D-4

Warga Pagardewa Antusias Berbenah

PAGARDEWA--Dengan disahkannya pemekaran Pagardewa, Tulangbawang, menjadi kecamatan pada 8 Juli 2004 lalu, masyarakat mulai bergairah membangun kampung. Dimotori tokoh-tokoh kampung, mereka memoles kampung dengan bergotong royong. Gerakan itu dimulai dari tempat pemakaman yang diyakini sebagai makam raja-raja Tulangbawang zaman kuno hingga makam ulama.

Abu Tholib Khalik, salah satu pemrakarsa terbentuknya Kecamatan Pagardewa, mengatakan berbagai aktivitas masyarakat termasuk berbenah diri terus dilakukan. Kegiatan tersebut, kata dia, selain merupakan pengungkapan rasa syukur kepada Allah swt., atas terbentuknya kecamatan baru juga dalam rangka menyambut acara peresmian kecamatan itu. "Insya Allah Bupati Tulangbawang Abdurrachman Sarbini pada 28 Juli 2004 akan meresmikan kecamatan ini," katanya.

Dia menjelaskan selain makam kuno yang dibersihkan, juga membenahani balai adat yang telah dilakukan sejak April lalu sampai dengan penyiapan dermaga apung di tangga raja Pagardewa. Drs. Masyono Nawawi, M.M., yang juga tokoh intelektual Pagardewa, menjelaskan peresmian kecamatan rencananya akan diawali isthigasa kubro yang akan dipimpin langsung ulama ternama dari kampung setempat yaitu K.H.A. Shobier.

Bahkan, kata Nawawi, K.H.A Shobier mengimbau seluruh putra-putri Pagardewa di mana pun berada agar mulang tiyuh (pulang kampung) dalam rangka mensyukuri nikmat Allah swt., yang telah memberikan anugerah berupa kecamatan sebagaimana diidamkan masyarakat. Ajakan agar putra-putri Pagardewa pulang kampung juga didukung Ketua Pembentukan Kecamatan Hi. Assaih Akip. Sebab, kata dia, pesta rakyat rencananya akan dilaksnakan 27 Juli, sehari sebelum peresmian kecamatan.

Drs. Hi. Herman Hn., M.M. yang juga salah satu tokoh masyarakat setempat menyatakan guna menyambut peresmian masyarakat telah menyiapkan dua ekor kerbau guna menjamu tamu pada acara peresmian. "Undangan untuk tamu sudah disebarkan," ujarnya.

Dalam catatan Lampung Post kegembiraan tokoh adat juga terlihat pada saat Dewan meresmikan pembentukan kecamatan 8 Juli 2004 lalu. Beberapa tokoh adat yang sempat hadir saat itu tak kuasa membendung cucuran air mata sebagai rasa kegembiraan. Para tokoh adat yang terlihat hadir, Hi. Assaih Akip, Hi. Arsyad Syafi'i, Abu Tholib Khalik, Sudirman Solehu, Herman Akip, Umar Yusuf Jalil, Herni S.R. Zubaidi.

Menurut Abu Tholib, Kampung Pagardewa telah berusia sekitar 15 abad yang selama ini kurang mendapat perhatian pemerintah. Oleh sebab itu, panitia persiapan terus gencar memperjuangkan agar Pagardewa dijadikan kecamatan sekaligus menjadi ibu kota kecamatan. Peresmian yang akan dilakukan 28 Juli nanti juga sekaligus menunjuk penjabat camat oleh Bupati. n FA/D-2